KITALAH SYIAH-NYA ALI BIN ABI THALIB
Sering kali kita menjumpai berbagai aliran agama Islam,
terutama di Nusantara. Dari sekian banyaknya aliran itu tidak sedikit pula yang
menyimpang. Penyimpangan itu memilki banyak faktor pendorong, salah satunya adalah
fanatisme. seperti
aliran yang umumnya disebut Syiah. Sebenarnya apa Syiah itu?
Seperti apa ajaran mereka? Siapa sebenarnya penganut ajaran itu? Sebelum
membahas tentang Syiah, mula-mula kita cari tahu terlebih dahulu
asal-muasal sebutan Syiah.
Dalam hadis masyhur yang berbunyi; “Wahai abu al-Hasan
(Ali bin Abi Thalib) , kamu dan Syiah (pendukung) kamu masuk surga. Dan bahwa
sesungguhnya, ada kaum yang mengira mereka mencintai kamu, tetapi mereka
merendahkan Islam kemudian memuntahkannya. Mereka keluar dari islam sebagaimana
panah menembus sasaran. Mereka memiliki julukan, yaitu Rafidloh (Penolak).
Apabila kalian menjumpai mereka maka bunuhlah, karena mereka Musyrik.” (HR.
Daruqutni) Dari hadis ini kita sudah mengetahui asal sebutan Syiah.
Akan tetapi hadis di atas tidak hanya menyebutkan satu
aliran, melainkan dua aliran. Pertama; Syiah, memiliki arti “pendukung”
yang diramalkan masuk surga bersama Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kedua; Rafidlah,
memiliki arti “penolak” yang diperintahkan untuk dibunuh bila bertemu mereka.
Pertanyaannya, seperti apa ajaran Syiah itu? Dalam kitab al-Minahu
al-Makkiyah karya Ibnu Hajar al-Haitami, beliau menukil perkataan Sayyid
Musa bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib yang diceritakan dari Sayyidina
Ali, yang berbunyi; “Syiah (pendukung) kami adalah orang yang taat kepada
Allah dan beramal seperti amal kami”.
Maksudnya adalah, Syiah yang diramalkan masuk surga oleh
Rasulullah adalah mereka yang taat kepada Allah swt dan berkelakuan seperti
Sayyidina Ali. Jadi, orang islam yang mengikuti kelakuan Sayyidina Ali seperti
penghormatan beliau terhadap Sayyidina Abu Bakar dan Umar, maka merekalah yang
pantas disebut Syiah-nya Ali. Inilah ajaran Syiah yang sebenarnya dan kitalah
penganut Syiah yang diramalkan masuk surga.
Sedangkan Rafidlah adalah orang yang mengaku cinta
Sayyidina Ali, akan tetapi mereka tidak taat kepada Allah swt dan tidak
berkelakuan sebagaimana Sayyidina Ali. Dalam riwayat lain Rasulullah saw
ditanya perihal karakteristik mereka, beliau bersabda; “mereka tidak
menghadiri Jumat dan tidak berjamaah. Mereka menghina para pendahulu (para
pendahulu sahabat Rasul, seperti Abu Bakar, Umar, dll.)”.
Kesimpulannya, pada awalnya sebutan Syiah itu ditujukan
untuk mereka yang taat kepada Allah swt dan
mengikuti jejak para sahabat Rasul saw. Tapi
kemudian sebutan itu dicatut oleh golongan tertentu untuk kepentingan pribadi.
Yang akhirnya konotasi dari sebutan Syiah pada zaman sekarang sangatlah jauh
berbeda dari zaman dahulu. Oleh karena itu, kita harus bisa memisahkan antara
Ajaran dan sebutan. Walaupun NU kalau ajarannya menyimpang, maka harus kita
luruskan. Karena sebutan hanyalah kedok, sedangkan ajaran/keyakinan adalah
jatidiri mereka yang sebenarnya.
Moh Faqih/Santri asal Paserpan Pasuruan

Tidak ada komentar